Bojonegoro, begitu nama itu yang dikenal sebagai salah satu kabupaten di Jawa Timur. Letaknya sekitar 67 kilometer dari ibukota Jawa Timur, Surabaya. Meski telah memiliki hasil tambang melimpah, kehidupan masyarakat di Bojonegoro tidaklah makmur seperti perusahaan-perusahaan minyak asing yang menguasainya.

Dalam hal pendidikan misalnya. Jangankan sekolah bertaraf internasional mau berinvestasi di wilayah ini, sekolah negeri pun keadaannya juga sungguh miris. Apalagi keadaan rumah sakitnya, hanya ada satu rumah sakit pemerintah dengan kondisi yang memprihatinkan. Satu rumah sakit itu bernama RS Veteran berada dekat dengan alun-alun dan tidak jauh dari kantor Dewan Perwakilan Daerah Bojonegoro.

Cerita punya cerita, pemimpin negeri ini pun tidak mampir menginjakkan kakinya di Bojonegoro. "Tidak ada satu presiden yang menginjakkan kakinya di sini. Tidak tahu kenapa," kata Gus Mul, salah seorang tokoh masyarakat di Bojonegoro saat berbincang dengan merdeka.com Senin lalu.

Seingatnya, dari enam presiden Indonesia, hanya Soekarno yang 'berani' datang ke Bojonegoro. Gus Mul tidak mengetahui kenapa presiden tidak mampir ke Bojonegoro. Namun, dari cerita yang dia tahu, ada mitos yang beredar di kalangan masyarakat bahwa jika presiden mampir di Bojonegoro, dia akan turun dari tahta.

Sebagai seorang tokoh pemuka agama, Gus Mul mengenyampingkan mitos tersebut. "Itu hanya mitos. Kalau mau datang ya datang saja," ujar Gus Mul.

Selain daerah menghasilkan minyak bumi, Bojonegoro dikenal daerah religius. Hal ini karena banyaknya Pondok Pesantren - khususnya Nahdlatul Ulama - yang berdiri di wilayah ini. Namun, apakah benar presiden enggan datang ke Bojonegoro karena mitos turun tahta?

Bojonegoro dan mitos presiden turun tahta

Artikel lainnya »